Broken

I have a broken soul

I am THE broken soul

My soul has been broken

since the death of my father…

Eight years ago.

Big parts of it has been lost

Falls deep into unforgivable darkness

No power can pull it up again

so that my soul be able to see the light

once more.

I cannot speak

The mouth shuts

But the tears tells everything

The feel

The fear

The sorrow

Have my soul gone too far into the darkness?

Can somebody save my broken soul?

I cannot bear if the remaining parts

seeks death once more

Can I be saved?

Advertisements

Cacat

Sebuah percakapan antara ibu itik buruk rupa dengan anaknya (yang pun).

Sang anak menghampiri ibunya yang sedang minum di pinggir genangan air kotor.

Anak: Ibu… Mengapa aku sangat berbeda dengan kakak-kakakku?

Ibu: Semua anakku dilahirkan berbeda, nak.

Anak: Tapi bu… Aku yang paling buruk rupa di antara Hans, Frederick, dan Joanne.

Ibu: Tapi tidakkah kau merasa mereka bertiga serupa dalam bertindak?

Anak: …

Ibu: Begini anakku…

Lalu sang ibu membawa anaknya ke arah ilalang yang mulai menyembunyikan matahari dibaliknya.

Ibu: Kamu tahu mengapa paruhmu sumbing sementara kakakmu terlahir dengan paruh sempurna?

Anak: *menggelengkan kepala*

Ibu: Agar terucap dari paruhmu kata-kata yang benar-benar ingin kau ucapkan. Ikhlas, jujur, dan tidak menyumpah-serapah. Berbeda dengan kakakmu yang selalu membuang energi lebih untuk selalu vokal.
Kamu tahu mengapa warna bulumu berbeda dari kakakmu yang kekuning-kuningan?

Anak: *menggelengkan kepala lagi*

Ibu: Agar kau tahu warna cerah dan terang tak melulu indah. Hitam atau putih pun ada yang mendambakan. Lihat saja nanti saat matahari sudah penuh disembunyikan ilalang. Langit hitam dan bintang yang—nampaknya—putih. Kau suka langit malam hari, tentu?

Anak: Suka sekali ibu.

Ibu: Lalu kau tahu mengapa selaputmu cacat sebelah sedang kakakmu bisa berenang dengan baiknya?

Si anak terdiam menunggu jawaban dari sang ibu.

Ibu: Coba kamu yang jawab…

Anak: Agar… Jalan lebih lambat?

Sang ibu tertawa kecil. Sambil tersenyum manis, ibu menjawab.

Ibu: Hampir benar, anakku.
Kaki kananmu yang selaputnya cacat itu sedikit sulit melangkah agar di tiap langkah kamu memiliki waktu untuk berpikir tanah mana yang akan kamu injak selanjutnya. Agar tak salah langkah. Perhatikan saja Hans yang pecicilan itu. Sudah berapa kali ia tersandung kubangan?

Anak: Sering, ibu.

Ibu: Apa kau pernah tersandung?

Anak: Tidak, ibu. Berkat Hans, aku jadi bisa menghindari jebakan-jebakan itu.

Ibu: Nak, aku menelurkan empat anak yang sebenarnya sama sekali berbeda, tapi kaulah juga istimewa. Kakakmu juga memiliki kelebihan sendiri yang mungkin tak kau punya. Jangan ragu untuk terlihat berbeda, namun belajar untuk menerima perbedaan.

Si anak hanya tersenyum layaknya itik kecil yang mencintai ibunya sehitam bulunya, secacat kakinya, dan sekeras suara anak itik berparuh sumbing. 

Keduanya pun menikmati bulan yang mulai menampakkan sinarnya dari balik ilalang yang tinggi menjulang. Menikmati hitamnya malam dan terangnya bintang.

Soleh Solihun Bicara Tentang Kesejahteraan Pers

“Kalau cuma merayakan hari pers tapi tidak berpengaruh terhadap persnya, buat apa?” ucap Soleh Solihun mengkritik.

Soleh Solihun. Sebuah nama yang dikenal atas profesinya sebagai stand up comedian dan kini juga menjadi pemain film. Tapi hari ini, pada Hari Pers Nasional, komika tersebut berbicara atas nama wartawan.

Tidak perlu diragukan lagi kemampuan Soleh dalam bidang jurnalistik karena pria kelahiran Bandung ini  sudah menggeluti profesinya sejak tahun 2004 hingga 2012.

Tapi sebagai alumni wartawan, apakah Soleh mengetahui mengenai Hari Pers Nasional yang jatuh pada hari ini?

“Tahu,” jawabnya singkat.

Soleh memiliki kecemasannya sendiri ketika membahas harapannya mengenai pers di Indonesia. Pemain film ‘Hangout’ ini menaruh perhatian terhadap profesi wartawan yang belum sejahtera dilihat dari gaji yang diterima oleh wartawan.

“Wartawan itu bebannya berat. Dituntut untuk memberikan informasi yang benar tapi seperti banyak orang tau secara kesejahteraan wartawan itu belum sejahtera,” ujarnya.

Ia kemudian mengacu pada data yang pernah dirilis oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia yang menyatakan bahwa masih banyak wartawan yang hidup dengan pendapatan di bawah standar ideal wartawan.

“Kalau cuma merayakan hari pers tapi tidak berpengaruh terhadap persnya, buat apa?” ucapnya mengkritik.

Sebelum menjadi setenar sekarang, tidak banyak orang yang tahu bahwa Soleh pernah menjadi wartawan selama delapan tahun lamanya.

Pria lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menemukan bakatnya untuk menulis dan minatnya terhadap musik. Soleh pun mengaku tidak mendalami bidang lain selain musik sehingga sangat mempengaruhi nasibnya sebagai seorang wartawan.

“Saya nggak terlalu suka baca berita politik, ekonomi, atau media di luar musik. Soalnya dulu saya pernah jadi wartawan ekonomi selama 6 bulan di Bandung, gajinya enak tapi batin nggak enak karena saya nggak suka dengan apa yang saya tulis,” ujarnya saat dihubungi oleh kumparan pada Rabu (8/2).

Dengan minat yang sudah ia senangi sejak kecil itu lah yang akhirnya menyeret Soleh ke majalah-majalah besar, yaitu majalah Trax, Playboy, hingga yang terakhir adalah Rolling Stone Indonesia.

Tapi apa alasan sebenarnya Soleh hengkang dari RSI?

“Oh saya dipecat. Di Rolling Stone saya menandatangani surat tidak boleh bekerja di dua perusahaan di waktu yang bersamaan. Waktu saya di Rolling Stone, saya siaran pagi dari jam 6-9,” ujarnya.

Setelah angkat kaki dari RSI tidak ada media lain, terutama majalah musik, yang menarik perhatian Soleh. Menurutnya, tidak ada media musik lain sebesar RSI dan majalah itu sendiri adalah puncak dari karier Soleh sebagai seorang wartawan.

“Saya sudah nyampe di level atas dan yang saya inginkan, buat apa saya pindah lagi ke media yang saya inginkan. Majalah yang bisa bikin saya bahagia cuma Rolling Stone karena nggak ada media yang lebih besar dari itu di Indonesia,” ucap pemain film ‘Cinta Brontosaurus’ mengakhiri pembicaraan dengan kumparan.

*catatan penulis: tulisan ini adalah tulisan mentah yang belum disunting oleh writer/editor dan kemudian dipublish di kumparan.

Belaian Mimpi

Mimpi kala menghibur
Berenang-renang di latar kelam
Merengkuh arti sang penghibur
Pelik mendatangkan yang tak malam

Mimpi
Sebuah misteri
Ungkapkan arti
Dari rasa yang tak terperi
Menari-nari dengan indahnya
Bisikkan kidung yang lama dirindukan

Aih,
Belaianmu kasih sayang

Sayang
Tenggelamkan jemarimu
Hanyut hingga sel-sel matiku
Gocek alam bawah sadarku

Jika kau ingin perlu tahu
Kusimpan terus dalam kalbu
Tak seorang pun boleh tahu

Apalagi kamu

Bicara

Bapak
Kini ku bicara padamu saat bulan sedang tinggi-tingginya

2008 kata ibu berkata…
Bapak menangis…
Sedih jika ditinggal anak perempuan pertamamu menikah
Saat itu sudah tiba
Kakak sudah berada di rumah lain
Bersama orang lain
Di pelukan tubuh lain

Bapak
Tempat yang kita sebut sebagai rumah ini makin sepi
Suara familiar setiap hari terdengar sudah berkurang dua
Perlahan demi perlahan
Kamar merah jambu itu takkan lagi menegurku
Satu persatu meninggalkan rumah
Pada saatnya…

Namamu terucap di setiap kesempatan
Membuka kembali memori manis
Juga memori kelam

Ku tahu kamu di sebelahku
Merengkuhku saatku terduduk sendiri
Menyaksikan janji suci itu tersumpah
Tak terbendung rasa haru ini
Air mata bercucuran
Dimatai oleh beribu orang

Bapak…
Akan ada saatnya anak cebolmu ini minggat
Bersama lelaki yang dirasanya paling layak
Mendapatkan kasih dan cintanya

Tapi,
Pernahkah Bapak menangisiku
Seperti saat kau menangisi Mbak Fat?

Kepada

Eyang

Menolak renta
Melawan kodrat
Lupa tak lagi muda

Tulang tak mampu lagi menumpu
Ingatan mulai tumpul
Tak ingin bergantung pada apapun
Siapapun

Keras kepala
Tapi wibawa terus mengharum
Tanya siapa tak hormat
Tanya siapa yang tak sayang

Tengadahkan tanganmu ke atas
Meminta pengampunan pada yang di atas
Minta umur panjang

Juga…
Doa untuk yang meninggalkanmu duluan
Sang raja
Sang pangeran